{"id":1866,"date":"2018-04-18T12:57:53","date_gmt":"2018-04-18T05:57:53","guid":{"rendered":"https:\/\/ahtsana.wordpress.com\/?p=1866"},"modified":"2018-04-18T12:57:53","modified_gmt":"2018-04-18T05:57:53","slug":"dadar-gulung-kenang-kenangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/2018\/04\/18\/dadar-gulung-kenang-kenangan\/","title":{"rendered":"Dadar Gulung Kenang-Kenangan"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"text-align:center\" class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\"><em>*Pernah dimuat di portal Kamantara.id, 2018.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-drop-cap wp-block-paragraph\">Apa sih bedanya daun suji dengan daun pandan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menarik napas panjang. Semua bahan sudah dibeli kecuali satu itu saja. Daun suji. Pergi ke pasar tradisional pun percuma. Ia tak tahu seperti apa rupa daun suji.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diambilnya ponsel dan dibukanya aplikasi <em>browser<\/em>. Ia mengetik kata \u201cbeli daun suji\u201d di kotak pencarian. Ada di toko&nbsp;<i>online<\/i>. Tapi, kalau beli&nbsp;<i>online<\/i>, harus menunggu lama. Ada pertanyaan yang sama di media sosial, tapi tanpa jawaban.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lama ia menatap bahan-bahan di atas meja dapur. Menimbang-nimbang, apa ruginya untuk tak menggunakan daun suji. Lalu ia kembali mengambil ponsel, kali ini mengetik \u201ckegunaan daun suji dadar gulung\u201d di kotak pencarian.&nbsp;<i>Scroll<\/i>,&nbsp;<i>scroll<\/i>. Hmm, ternyata untuk membuat warna hijau pada kulit dadar gulung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia memutuskan untuk memberanikan diri. Ya sudahlah, tidak apa-apa kalau tak sehijau yang seharusnya. Pakai daun pandan yang ada saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia mengayak tepung terigu ke dalam sebuah mangkuk, kemudian menambahkan garam ke sana. Santan dan telur dicampur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oh, sial! Maksudnya santan dimasukkan pelan-pelan ke kocokan telur ya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tulisan ibunya yang keriwil-keriwil di buku itu tak bisa terbaca jelas. Bukunya pun lecek tak beraturan. Ada bekas kebasahan di ujung-ujung luarnya. Sedikit bau tengik, mungkin ketumpahan entah masakan apa yang pernah dibuat ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Telur sudah menggenang di mangkuk berisi santan. Apa boleh buat. Ia kocok saja sekaligus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sayup-sayup ia mendengar ayahnya terisak di kamar. Ia terus mengocok santan dan telur, semakin keras, semakin keras, berusaha menenggelamkan suara yang lirih namun memekakkan hatinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPermisi! Paket!\u201d terdengar suara dari depan rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cYa! Sebentar!\u201d ia berteriak keras dari dapur yang letaknya di bagian belakang rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia meletakkan mangkuk dan pengocok di meja dapur kemudian mengelap kedua tangannya. Bergegas, ia setengah berlari menuju pintu depan dan membuka pintu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang kurir berdiri di depan pagar. \u201cPermisi. Dokumen. Atas nama ibu Ratna.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menelan ludah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDari mana?\u201d tanyanya sambil menarik napas dalam-dalam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAsuransi,\u201d kata si kurir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wajar. Ibunya baru tiga hari meninggal. Dan perusahaan asuransi bukan cenayang. Tubuhnya yang tadi menegang mulai relaks. Tanpa membuka pagar, ia mengambil dokumen dari tangan kurir dari sela-sela pagar dan menandatangani bukti penerimaan. \u201cMakasih,\u201d ujarnya sambil memaksakan senyum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSama-sama, Bu,\u201d balas si kurir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia masuk ke dalam dan melemparkan laporan asuransi itu ke meja, membiarkannya bergabung dengan tumpukan tugas administrasi lainnya. Tagihan rumah sakit, laporan ke RT dan RW, laporan ke bank.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ditatapnya jam di dinding. Pukul empat sore. Apa yang biasa dilakukan ibunya sore-sore begini? Ia sudah tak tahu lagi. Sudah delapan tahun ia tak lagi tinggal bersama orang tuanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu ia teringat sesuatu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia berjalan ke kamar. Ke kamarnya sendiri. Pintunya tertutup rapat. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pelan. \u201cPa,\u201d ujarnya, \u201cmau dibuatkan kopi?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masih terdengar lirih suara isak ayahnya. Kemarin ayahnya minta bertukar kamar. \u201cPapa nggak kuat tidur di kamar sendiri,\u201d ujar sang ayah. Maka, semalam ia menghabiskan malam dengan mata terbelalak, dikelilingi barang-barang ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menahan dorongan air mata yang sudah menumpuk selama dua minggu terakhir. Ia menengadahkan kepala dan kembali menarik napas, sambil menunggu jawaban ayahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah beberapa lama terdengar suara sedikit bergetar dari dalam kamar, \u201cBoleh.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia kembali ke dapur, mengambil panci dari gantungan dan mengambil air dari ember penampungan air masak. Sambil menunggu air mendidih, ia mengambil cangkir cokelat yang biasa digunakan ibunya untuk menyeduh kopi. Dua sendok penuh kopi dan satu sendok gula putih. Untunglah, ia masih ingat tanpa perlu melihat buku resep.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdengar suara pintu kamar dibuka. Ayahnya berjalan menuju meja makan yang berseberangan dengan meja dapur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMasak apa, nak?\u201d tanya ayahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDadar gulung, Pa,\u201d ia menjawab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTelat, dong. Kopinya sudah mau jadi, dadar gulungnya belum,\u201d cetus ayahnya. Ia baru sadar. Dadar gulung adalah resep andalan ibunya. Yang selalu dibuat sore-sore menjelang waktu&nbsp;<i>ngopi<\/i>&nbsp;ayahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia berbalik menatap ayahnya yang sudah duduk di depan meja makan sambil bermain ponsel. Setidaknya, ayahnya tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIya nih, telat belanja tadi,\u201d ia menanggapi sambil mengaduk kopi di cangkir. Matanya menatap roti tawar di sudut. Diantarkannya secangkir kopi ke meja makan dan meletakkannya di depan ayahnya. \u201cAtau Papa mau roti bakar aja?\u201d tawarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ayahnya kembali tersenyum. Tapi matanya tidak. \u201cCek dulu. Entah kapan itu belinya. Waktu itu beli sama Mama,\u201d ia berkata sambil menerawang ke jendela. Menatap tanaman-tanaman yang layu sejak ibunya sakit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia mengambil roti tawar dan mengecek tulisan di kemasannya. Kedaluwarsa hari ini. Ibunya selalu bilang dulu, \u201cNggak apa lah, kedaluwarsa sedikit. Biar kuat,\u201d sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMasih bisa kok, Pa,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Roti itu mungkin baru dibeli lima hari lalu. Cara ayahnya berkata \u201centah kapan\u201d seakan merentangkan jarak waktu lebar-lebar, menegaskan teori relativitas Einstein dengan cara yang sama sekali tak empiris. Tapi efektif. Terlalu efektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baru tiga hari. Sudah tiga hari. Ia tak yakin betul istilah mana yang lebih tepat. Rasanya seperti sudah sepanjang hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baru tiga hari. Dan rindu menggantung. Sampai entah kapan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator is-style-wide\"\/>\n\n\n\n<p style=\"text-align:right\" class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\"><em>[Ditulis saat pertemuan mingguan CS Writers Club Bandung, 1 Februari, 2018.<\/em><br><em>Merespons topik &#8220;Resep Dadar Gulung Kenangan&#8221;.]<\/em><\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:right\" class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\"><a style=\"background-color: black; color: white; text-decoration: none; padding: 4px 6px; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'San Francisco', 'Helvetica Neue', Helvetica, Ubuntu, Roboto, Noto, 'Segoe UI', Arial, sans-serif; font-size: 12px; font-weight: bold; line-height: 1.2; display: inline-block; border-radius: 3px;\" title=\"Download free do whatever you want high-resolution photos from Calum Lewis\" href=\"https:\/\/unsplash.com\/@calumlewis?utm_medium=referral&amp;utm_campaign=photographer-credit&amp;utm_content=creditBadge\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span style=\"display: inline-block; padding: 2px 3px;\">Featured image by Calum Lewis<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>*Pernah dimuat di portal Kamantara.id, 2018. Apa sih bedanya daun suji dengan daun pandan? Ia menarik napas panjang. Semua bahan sudah dibeli kecuali satu itu saja. Daun suji. Pergi ke pasar tradisional pun percuma. Ia tak tahu seperti apa rupa daun suji. Diambilnya ponsel dan dibukanya aplikasi browser. Ia mengetik kata \u201cbeli daun suji\u201d di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2026,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[14,16,26,32],"class_list":["post-1866","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita","tag-cerpen","tag-dadar-gulung","tag-kamantara","tag-mama"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1866","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1866"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1866\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}