{"id":1999,"date":"2019-03-01T23:09:48","date_gmt":"2019-03-01T16:09:48","guid":{"rendered":"http:\/\/ahtsana.web.id\/?p=1999"},"modified":"2019-03-01T23:09:48","modified_gmt":"2019-03-01T16:09:48","slug":"brainspotting-bagian-satu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/2019\/03\/01\/brainspotting-bagian-satu\/","title":{"rendered":"Makhluk Asing Bernama Brainspotting"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"text-align:center\" class=\"has-text-color has-small-font-size has-cyan-bluish-gray-color wp-block-paragraph\"><em>Ini adalah tulisan pertama dalam rangkaian tulisan tentang pengalaman saya menjalani terapi <\/em>brainspotting<em>. Percakapan saya dengan psikolog Ibu Amanda Octacia Sjam bukan verbatim karena hanya saya ambil dari ingatan terkuat selama interaksi kami, yang berlangsung sejak Juli 2017 sampai Februari 2019. Tulisan ini saya buat murni dengan maksud berbagi pengalaman pribadi sehingga mungkin berbeda dengan pengalaman orang lain. Tidak ada maksud komersial ataupun motif-motif lainnya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-drop-cap wp-block-paragraph\">Ruangan itu tak tampak seperti yang sering ditampilkan film-film Hollywood. Tidak ada sofa panjang di mana biasanya pasien berbaring. Tidak juga suasana interior elegan berwarna kalem dengan jendela atau dinding kaca menghadap hehijauan. Satu-satunya yang menghadirkan kesan <em>Freudian <\/em>adalah kursi kulit berpunggung tinggi yang berada di sebelah meja periksa dokter. Baru kemudian kutahu bahwa ternyata kursi itu bukan untuk diduduki terapis, tapi pasien. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ruangan itu tak berjendela, terletak di lantai dua sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Sebuah ruang praktik dokter, lengkap dengan meja periksa yang nampak tak berguna, yang dipaksakan menjadi ruang konsultasi psikologi. Hanya si kursi <em>Freudian<\/em> dan tulisan di pintu ruangan yang menegaskan bahwa itu bukan ruang praktik dokter: \u201cAmanda Octacia Sjam, M. Psi. Psikolog.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku\nmendapat kontak Ibu Amanda dari teman yang juga bolak-balik berurusan dengan\npsikolog dan psikiater. Foto di profil WhatsApp-nya menunjukkan perempuan cantik\nyang usianya masih relatif muda. Mungkin akhir 30-an atau awal 40-an. Raut\nmukanya tegas, membuatku agak segan. Tapi, ia membalas pesanku di WhatsApp\ndengan hangat dan ketika bertemu, ternyata pembawaannya jauh lebih ramah dan\nsantai daripada tampilannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPraktik di rumah sakit, jadi lebih murah,\u201d kata temanku. Psikolog yang membuka praktik privat memang identik dengan tarif yang lebih tinggi. Tiga tahun sebelumnya, di Jakarta, aku pernah berkonsultasi dengan konselor pernikahan yang membuka praktik di rumah. Yang menjadi ruang konsultasinya adalah ruang perpustakaan pribadi yang dikelilingi rak-rak besar berisi koleksi buku dan DVD\u2014orisinal, bukan bajakan. Ruangnya lapang dengan jendela ke arah taman yang terjaga asri. Di seberang ruangan ada <em>powder room<\/em>, yang mungil tapi cantik, ala rumah-rumah kolonial. Tarif konsultasinya? Dua kali lipat dari tarif konsultasi di rumah sakit itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buatku\nsaat itu, kenyamanan ruang bukan prioritas. Tabunganku sejak <em>resign<\/em> mulai menipis dan aku kesulitan\nbekerja karena masalah depresi yang, setelah lima tahun sejak pertama kali\nkurasakan, bukannya mereda malah memuncak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di pertemuan\npertama, aku belum duduk di kursi <em>Freudian<\/em>.\nIbu Amanda mempersilakanku duduk di salah satu dari tiga kursi kosong yang\nmengitari sebuah meja kayu berbentuk bundar. Aku memilih duduk berseberangan\ndengan Ibu Amanda, lalu merasa seperti sedang rapat, bukannya konsultasi\npsikologi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia\nmemulai dengan pertanyaan, \u201cJadi, apa yang menjadi masalah? Apa yang Eka\nrasakan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seandainya\nia adalah dokter umum dan aku datang karena sakit mag, mungkin akan jauh lebih\nmudah menjelaskannya. Kemarin perut terasa perih. Hari ini sudah dua kali\nmuntah asam lambung. Seminggu terakhir minum kopi dua gelas sehari dan jadwal\nmakan tak menentu karena sedang masuk tenggat. Sudah dua hari minum obat lambung\nyang bebas dijual, total enam kali minum. Mudah, kan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku\nmengambil jeda beberapa detik sambil bergumam, \u201cSaya mulai dari mana ya, Bu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu\nAmanda menunggu. Raut wajahnya yang tegas ketika sedang diam membuatku sedikit\nberdebar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak\npernah mudah menjelaskan depresi, bahkan kepada tenaga profesional yang sudah\nterbiasa menghadapinya. Membuka diri tentang kondisi psikologis mengundang\nrisiko disepelekan, bahkan dihakimi. Tenaga profesional kesehatan mental juga\nmanusia dengan kepribadian yang berbeda-beda. Tidak semuanya akan bereaksi\nsesuai harapan saat mendengar apa yang kita ceritakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Harus\nmulai dari mana? Perasaan? Lalu terbayang orang-orang yang sudah pernah\nkucurhati berkata, \u201cJangan terlalu terbawa perasaan. Nggak usah dibawa stres.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku\nmemutuskan untuk memulai dari kejadian yang terdekat. Terjadi tepat saat Idul\nFitri tahun 2017, belum juga lewat satu bulan dari pertemuan hari itu.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator is-style-dots\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">H minus satu Lebaran, aku menjalankan puasa seperti hari-hari sebelumnya. Sore hari menjelang buka puasa, aku minta suamiku menemaniku ke makam Mama. Kami berdua membersihkan makam, berdoa sebentar, lalu memberikan sedikit uang lelah untuk para penjaga makam. Seusainya kami mencari makanan kecil untuk buka puasa\u2014<em>seblak<\/em>, lumpia basah, dan es cendol. Ketika pulang\u2014kami masih tinggal di rumah orangtua suamiku\u2014suasana sudah ramai dengan saudara-saudara yang ikut buka bersama. Tidak ada yang ganjil, semua normal-normal saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malam\nitu, aku pergi tidur lebih awal, sekitar pukul delapan. Suamiku menyusul masuk\nkamar tengah malam. Aku terbangun dan kami mengobrol sebentar, tapi tak lama\nkemudian ia terlelap. Aku terjaga sendirian di kamar yang gelap, lalu pikiranku\nmulai melayang-layang tak tentu arah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun itu adalah Lebaran kedua di rumah mertuaku dan Lebaran ketiga setelah Mama meninggal. Tiba-tiba dadaku sesak mengingat Mama, mengingat Lebaran terakhir kami bersama, saat fisiknya mulai melemah karena kanker paru-paru yang belum terdeteksi. Lalu terbayang Lebaran setelahnya, saat Papa, dalam kedukaannya sepeninggal Mama, bertingkah seperti remaja puber yang menyebalkan. Diam-diam pacaran dengan teman kuliahnya yang janda dan merencanakan pernikahan tanpa kami, anak-anaknya, pernah bertemu muka satu kali pun dengan perempuan itu, apalagi dimintakan pendapat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun itu, Papa sudah menikah lagi. Bukan dengan teman kuliahnya yang janda itu, dan kali ini setelah kami\u2014Papa dengan anak-anaknya juga calon istri Papa dengan anak-anaknya\u2014saling bertemu dan berkenalan. Dua Lebaran terakhir dihabiskannya di Cilacap, kampung halaman ibu tiriku. Adikku, dengan istri dan anaknya, sudah berada di Bintaro, di kediaman keluarga istrinya. Dan aku, berada di tengah-tengah keluarga besar suamiku, merasa begitu asing. Keluarga intiku sudah terpencar-pencar. Keluarga besar terdekatku, dari pihak Mama, terasa begitu jauh sepeninggalnya Mama sehingga tak lagi terasa kalau aku adalah bagian dari mereka. Aku merasa amat sangat kesepian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku mulai menangis tanpa sebab yang benar-benar mendesak selain perasaan kesepian itu. Aku menangis, lalu mereda, lalu menangis kembali, lalu mereda lagi. Terus begitu sampai takbir berganti azan subuh. Suamiku terbangun, kaget mendapatiku menangis. \u201cAku belum tidur,\u201d ujarku di tengah-tengah sembap. Aku menyuruhnya bersiap-siap salat Idul Fitri selagi mencoba menenangkan diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Matahari sudah menyingsing dan tangisku tak kunjung bisa kukendalikan. Aku memutuskan untuk tak ikut salat Idul Fitri. \u201cBilang yang lain, aku sakit,\u201d ujarku. Tangisku itu bertahan selama dua hari, hanya berhenti ketika tidur. Ketika terbangun, aku akan mulai menangis lagi, tak jelas sebabnya. Suamiku membentengiku dari pertanyaan-pertanyaan keluarganya. Ia memutuskan kami tak jadi ikut mudik ke kampung halaman ibunya di Sumedang, menyuruhku tetap di kamar, tak perlu menemui orang-orang yang sudah memenuhi rumah orangtuanya. Di akhir hari kedua Lebaran, tiba-tiba tangisku mereda. Hilang begitu saja, meninggalkan kebas dan bengkak di wajah, pengar di kepala, dan kekosongan yang sulit kujelaskan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator is-style-dots\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku masih duduk di hadapan Ibu Amanda. Kukatakan padanya bahwa kejadian itu menjadi titik di mana aku merasa sangat perlu untuk mencari bantuan profesional. Lalu, sesingkat mungkin, kuceritakan bahwa dalam rentang waktu tiga tahun, aku menghadapi kematian bayi-bayiku yang lahir prematur, perceraian, dan kematian ibuku karena kanker. Cerita yang sudah berulang-ulang kuceritakan seperti kaset kusut memutar lagu yang sama terus-menerus. Lalu kusampaikan juga, seperti halnya menceritakan riwayat obat yang kumakan, bahwa aku pernah beberapa kali menjalani hipnoterapi dan konsultasi dengan konselor pernikahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu Amanda sibuk mencatat di map rekam medisnya. Lalu ia mengajukan beberapa pertanyaan, yang sebagian besar sudah tak kuingat lagi. Kalau tak salah, dua di antaranya tentang ada atau tidaknya gejala fisik dan bagaimana pengaruhnya terhadap kegiatan sehari-hariku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekitar\ndua bulan sebelum pertemuan hari itu, aku mengalami infeksi saluran kencing\nyang tidak jelas penyebabnya. Aku sudah mendatangi internis dan urolog, tapi\njawabannya tak memuaskan. Hasil tesku membuktikan ada bakteri, tapi seharusnya sudah\nhilang dengan pemberian antibiotik. Tidak ada tanda-tanda batu ginjal.\nSebelumnya lagi, sempat beberapa kali muncul benjolan di kaki yang membuatku\nsulit berjalan. Juga tak jelas penyebabnya. Dan yang paling sering muncul\nadalah sakit lambung, kadang cukup parah sampai membuatku harus dilarikan ke\nIGD.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAda\npengaruh kepada kegiatan sehari-hari?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oh,\ntentu. Aku jadi cemas, terobsesi untuk mencari tahu apa yang salah dengan\ndiriku. Aku sulit berkonsentrasi saat kerja dan selalu merasa tidak layak,\ntidak kapabel untuk menjalankan tugas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu\nAmanda kembali menulis-nulis di catatan rekam medisnya. Kemudian, ia mendongak\ndan mulai berbicara. Aku tak terlalu memperhatikan kata-kata pengantar yang\ndisampaikannya, sampai perhatianku kemudian tercuri ketika dia berkata, \u201cMelihat\nkondisi Eka, saya mau menawarkan terapi <em>brainspotting<\/em>.\nBisa saya jelaskan dulu, nanti Eka bisa putuskan, apakah tertarik atau tidak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Oh, shit<\/em>, ujarku dalam hati, <em>makhluk apa lagi ini?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku mulai merasa malas, rasanya tak beda jauh dengan ditawari produk asuransi yang menjanjikan bukan saja nilai pertanggungan besar, tapi juga pengembalian berupa investasi yang luar biasa menguntungkan. Aku sudah kehilangan kepercayaan pada terapi hipnoterapi, sulit rasanya membangun kepercayaan pada teknik terapi baru. Semua karena ayahku sendiri juga seorang hipnoterapis klinis, meski tanpa latar pendidikan psikologi. Aku hanya ingin terapi bicara yang konvensional dan sudah teruji. Aku tak ingin berada di dalam sesi terapi di mana aku merasa tak punya kendali atas tubuhku sendiri dan tak tahu akan dibawa ke mana arah pikiranku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berkali-kali ayahku menawarkan diri untuk \u201cmenuntaskan\u201d masalah emosiku lewat teknik hipnoterapinya dan aku lebih sering menolak. Sebagian karena aku tak ingin ia mencampuri urusan pribadiku. Sebagian lagi karena aku melindunginya dari mengetahui kenyataan bahwa ia dan kepercayaan dirinya yang berlebih itulah yang menjadi akar masalahku. Aku hanya membiarkannya melakukan terapi atas keluhan-keluhan remeh seperti kurang percaya diri menghadapi wawancara kerja atau sakit-sakit badan yang ringan. Hanya untuk menghibur egonya saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, seperti biasanya, aku tak kuasa menolak permintaan orang lain karena tak ingin terlihat tidak sopan. Aku pun meminta Ibu Amanda menjelaskan. Ia memberi gambaran bahwa metode <em>brainspotting<\/em> didasarkan penelitian bahwa arah pandangan mata kita terhubung dengan emosi. Terapis, dalam hal ini Ibu Amanda, akan membantuku mengakses trauma, masalah emosional, maupun masalah somatis dengan memandu arah pandangan mataku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia\npasti melihat ketidakpercayaan di wajahku karena kemudian ia mencoba\nmengelaborasi penjelasannya. Dikeluarkannya buku panduan dengan gambar\nbagian-bagian otak di dalamnya dan mulai menyebutkan istilah-istilah sains yang\nrumit. <em>Amygdala<\/em>, sistem <em>limbyc<\/em>, <em>frontal cortex<\/em>. Keputusan yang salah karena aku malah semakin\nbingung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di\nakhir penjelasannya, aku cuma bisa bertanya, \u201cApa bedanya dengan hipnoterapi,\nBu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;\u201cOh, berbeda. Dalam <em>brainspotting<\/em>, pasien dalam keadaan sadar dan memiliki kendali\npenuh. Kalau Eka tidak mau menceritakan apa yang Eka rasakan atau ingatan yang\nmuncul pada saat terapi berlangsung, tidak jadi masalah,\u201d tukasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ah! Aku\nmulai tertarik. Terapi dengan psikolog tanpa perlu bercerita secara verbal? Tanpa\nperlu diubek-ubek isi otaknya oleh orang tak dikenal dalam keadaan pikiran\nsadar dilumpuhkan? Masa, sih, bisa?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Toh, aku tak punya banyak pilihan. Aku tak ingin menjalani hipnoterapi tanpa dibarengi dengan terapi psikologi yang lebih konvensional seperti terapi bicara. Aku juga tak ingin cari jalan pintas dengan minta resep antidepresan pada psikiater. Saat itu, Ibu Amanda adalah satu-satunya praktisi <em>brainspotting<\/em> di Bandung (tahun ini sudah ada dua orang), aku tak punya pilihan untuk meminta opini lain. Tapi, aku juga sudah mendengar betapa kadang mengikuti terapi bicara sangat lamban dan menyita waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKalau\nsaya oke, kita akan mulai kapan, Bu?\u201d tanyaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBisa minggu depan,\u201d ia menjawab cepat. Terlalu cepat. Aku mulai menimbang-nimbang kondisi keuanganku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuputuskan untuk bertanya tentang tarifnya. Daripada nanti tabunganku habis, lalu usahaku untuk keluar dari ruwetnya depresi ini berhenti di tengah-tengah, tanpa hasil memuaskan, seperti perawatan menghilangkan rambut pubis dengan penyinaran yang pernah kulakukan dulu. Ibu Amanda menjelaskan tarifnya. Lebih mahal tiga ratus ribu dari tarif konsultasi reguler. Tapi, ia memberi catatan, tidak ada batasan waktu dalam satu sesi terapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKira-kira,\nkasus seperti saya butuh berapa kali pertemuan, Bu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaya\ntidak bisa menjanjikan. Tergantung seberapa dalam masalah dan bagaimana pasien\nmerespons terapi,\u201d jawabnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, ini yang tak kusuka dari terapi-terapi <em>cutting edge<\/em> macam ini. Sudah harganya nggak murah, nggak tahu kapan selesai pula. Mending kalau bisa dibayar lewat mekanisme BPJS.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLalu,\nfrekuensinya, harus berapa kali dalam satu bulan?\u201d aku mencari jalan lain untuk\nbisa mengalkulasi kebutuhan dana yang harus kusiapkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSebaiknya\nsetiap minggu. Tapi, bisa disesuaikan dengan jadwal Eka kalau memang tidak\nbisa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya\naku mulai jujur dengan kondisi keuanganku, \u201cBu, saya kerja <em>freelance<\/em>. Jadi, penghasilan per bulan saya nggak pasti. Dengan\nkondisi sekarang, maksimal yang bisa saya jalani hanya dua kali per bulan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cNggak\napa-apa, tapi Eka juga harus mengerti kalau proses penyembuhannya akan makan\nwaktu yang lebih lama.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaya\nnggak masalah dengan itu, Bu. Hmmm\u2026 kalau misalnya, di tengah-tengah, kondisi\nkeuangan saya kurang lancar lalu ternyata saya hanya bisa sebulan sekali,\ngimana Bu?\u201d aku memberikan skenario terburuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAsalkan\nkita sama-sama berkomitmen. Kalau memang sudah jadwalnya terapi, walaupun satu\nbulan sekali, ya benar datang untuk terapi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku\nmengambil jeda beberapa saat lagi. Nampaknya, walaupun tampilan luarnya\nterkesan keras dan tegas, Ibu Amanda cukup fleksibel. Dan aku sudah sangat lelah\ndengan kondisi emosionalku sendiri, yang tak jelas juntrungannya itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuambil\nkeputusan tanpa berpikir lagi, \u201cOke, Bu. Minggu depan kita mulai terapi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator is-style-dots\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" style=\"font-size:11px\"><a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/rmWtVQN5RzU\">Photo by Jesse Orrico from Unsplash<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ini adalah tulisan pertama dalam rangkaian tulisan tentang pengalaman saya menjalani terapi brainspotting. Percakapan saya dengan psikolog Ibu Amanda Octacia Sjam bukan verbatim karena hanya saya ambil dari ingatan terkuat selama interaksi kami, yang berlangsung sejak Juli 2017 sampai Februari 2019. Tulisan ini saya buat murni dengan maksud berbagi pengalaman pribadi sehingga mungkin berbeda dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2004,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[10,11,54],"class_list":["post-1999","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-esai","tag-bandung","tag-brainspotting","tag-terapi-psikologi"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1999","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1999"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1999\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1999"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1999"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.ahtsana.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1999"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}